Senin, 19 Juli 2010
RPP Bahasa Inggris SMK kelas X
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Nama Sekolah : SMK JAYABEKA 01
Mata Pelajaran : Bahasa Inggris
Kelas/semester : X/I
Pertemuan ke : 11-20
Alokasi Waktu : 21 jamx45 menit
Standar Kompetensi : Berkomunikasi dengan Bahasa Inggris
setara level novice.
Kompetensi Dasar : Mendeskripsikan ciri-ciri benda, orang, waktu,
hari, bulan dan tahun.
Indikator :
• Bilangan digunakan dengan tepat dalam berbagai konteks
• Kata-kata dirangkai untuk mendeskripsikan benda berdasarkan warna, bentuk, asal, dsb.
• kata dirangkai untuk mendeskripsikan orang dari asal Negara, warga Negara dan bahasa
• kata-kata yang dirangkai untuk mendeskripsikan suatu kejadian berdasarkan waktu, hari. Bulan dan tahun.
Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat mendeskripsikan ciri-ciri, benda, orang, waktu, hari, bulan, dan tahun.
Materi Pokok
• Ten, first, etc
• Plus, minus
• Adjective in series
• Nationality and language ( China – Chinese, Italy – Italian )
• So, too, neither, either
Metode Pembelajaran
• Penugasan
• Tanya Jawab
• Demonstrasi
Langkah-langkah Pembelajaran
A. Kegiatan Pendahuluan
A.1. Apersepsi:
• Berdo’a dan salam
• Pembahasan PR
• Absensi siswa
A.2. Motivasi :
• Perkenalan materi dan manfaatnya untuk memotivasi siswa.
• Menanyakan pada siswa materi yang belum dipahami dan mau ditanyakan atau dibahas kembali
B. Kegiatan Inti
B. 1. Siswa diberikan penjelasan tentang materi pokok dan tujuannya.
B.2. Siswa dibimbing untuk mengucapkan cirri-ciri benda, orang, waktu,
dsb dalam bahasa Inggris dengan baik.
B.3. Dengan bimbingan guru:
B.3.1. Siswa mendiskusikan tentang hasil yang diperoleh.
B.3.2. Siswa membuat kesimpulan dari kegiatan yang dilakukan.
B.3.3. Siswa mengerjakan soal latihan dari buku sumber/modal.
B.3.4 Membahas soal yang dianggap sulit oleh siswa.
C. Kegiatan akhir
C.1. Membuat rangkuman tentang apa yang telah dipelajari.
C.2. Meminta siswa untuk menuliskan apa yang mereka rasakan selama
mengikuti kegiatan belajar.
C.3. Memberi PR dengan mengerjakan soal latihan dari buku sumber.
Alat dan Sumber Bahan
A. Fasilitas:
• Kelas/lab bahasa dan perlengkapannya
• Peralatan yang mendukung
B. Sumber Belajar:
• Global Access to the world of work
• Modul Bahasa Inggris HUp
• English Grammar in Use
• Person to person
• Kamus Inggris- Indonesia
Penilaian
• Prosedur : Tes awal, tes pengamatan/proses, tes akhir
• Jenis tes : Lisan dan tertulis
• Bentuk tes : Uraian
• Soal : Terlampir
• Skor Penilaian : Terlampir
Soal
1. a. Twenty first =……..
b. Thirty ninth = …….
2. twenty five …………. Five equal twenty
3. five …………….four…………………….two…………equal ten
4. My mother is reading (Indonesian, old, nice, one) novel………..
5. Sony has bought (new, a yellow, Japanese) car.
6. Kaka is from Brazil……………
He is ……………….
He speaks…………….
7. Krisdayanti has a …………………… hair and ……………… body.
8. Mr. Asep goes to Bali
Mrs. Lucy goes to Bali
9. adit didn’t do the homework
Alan didn’t do the homework
10. Adit did his homework
Alan didn’t do the homework
Kunci Jawaban Skor
1. a. 21st
b. 39th
2. minus / reduced by
3. multiplied by, divided by
4. one nice old Indonesian novel
5. a new yellow Japanese car
6. – Brazilian
- Portuguese
7. long/ straight, slim
8. Mr. asep goes to Bali and so does Mrs. Lucy
9. Adit dint do the home work and neither did Alan
10. Adit did his home work, but Alan didn’t. 1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Skor Maksimum 10
..... , Juli 2007
Mengetahui,
Kepala SMK JAYABEKA 01 Guru Mata Pelajaran,
........................................... ............................................
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Nama Sekolah : SMK JAYABEKA 01
Mata Pelajaran : Bahasa Inggris
Kelas/semester : X/I
Pertemuan ke : 5-10
Alokasi Waktu : 12 jam x 45 menit
Standar Kompetensi : Berkomunikasi dengan Bahasa Inggris setara
Level Novice
Kompetensi dasar : Menyebutkan ciri-ciri benda, orang, waktu, hari,
bulan, dan tahun.
Indikator :
• Nama-nama benda dan kata yang mendeskripsikan warna, bentuk, asal ukuran, dsb.
• Kata-kata yang mendeskripsikan orang dilihat dari fisik, kualitas, atau sifat.
• Waktu, nama-nama hari/bulan, tahun disebutkan dengan tepat.
Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat mendeskripsikan ciri-ciri, benda, orang, waktu, hari, bulan, dan tahun.
Materi Pokok
• green, good, big, Chinese
• fat, tall, beautiful, smart
• six o’clock, ten to five
• Sunday, 1st of July, August, 2006
• Book-books, baby-babies
• Have-has
Metode Pembelajaran
• Penugasan
• Tanya Jawab
• Demonstrasi
Langkah-langkah Pembelajaran
A. Kegiatan Pendahuluan
A.1. Apersepsi:
• Berdo’a dan salam
• Pembahasan PR
• Absensi siswa
A.2. Motivasi :
• Perkenalan materi dan manfaatnya untuk memotivasi siswa.
• Menanyakan pada siswa materi yang belum dipahami dan mau
• ditanyakan atau dibahas kembali
B. Kegiatan Inti
B. 1. Siswa diberikan penjelasan tentang materi pokok dan tujuannya.
B. 2. Siswa dibimbing untuk mengucapkan nama-nama benda, ciri-ciri
orang, waktu dalam bahasa Inggris dengan baik.
B. 3. Dengan bimbingan guru:
B.3.1. Siswa mendiskusikan tentang hasil yang diperoleh.
B.3.2 Siswa membuat kesimpulan dari kegiatan yang dilakukan.
B.3.3 Siswa mengerjakan soal latihan dari buku sumber/modul.
B.3.4 Membahas soal yang dianggap sulit oleh siswa.
C. Kegiatan Akhir
C.1. Membuat rangkuman tentang apa yang telah dipelajari.
C.2. Meminta siswa untuk menuliskan apa yang mereka rasakan
selama mengikuti kegiatan belajar.
C.3. Memberi PR dengan mengerjakan soal latihan dari buku sumber.
Alat dan Sumber Belajar
A. Fasilitas:
• Kelas/lab bahasa dan perlengkapannya
• Peralatan yang mendukung
B. Sumber Belajar:
• Global Access to the world of work
• Modul Bahasa Inggris HUP
• English Grammar in Use
• Person to person
• Kamus Inggris- Indonesia
Penilaian
• Prosedur : Tes awal, tes pengamatan/proses, tes akhir
• Jenis tes : Lisan dan tertulis
• Bentuk tes : Uraian
• Soal : Terlampir
• Skor Penilaian : Terlampir
• Kunci Jawaban : Terlampir
Soal
1. All of wheel is … in shape.
2. Suci got the good score for all subjects. She is a … girl.
3. 9.30 am : …
4. I see a lot of … (wolf)
5. We celebrate the independence day on …
6. Lia … a lot of friend, she is a kind girl. (have/has)
7. Bima : Your bag looks good, what … is your bag made from?
8. Arjuna : It’s made from leather.
9. He has three … (watch)
10. Face that shaped like an egg is … face.
11.We celebrate the Kartini’s day on …, …
Kunci Jawaban Skor
11. circle
12. smart/clever
13. – half past nine
- thirty past nine
14. wolves
15. – August, 17
- 17th of August
16. has
17. substance
18. watches
19. oval
20. – April, 21
- 21st of April 1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Skor Maksimum 10
..... , Juli 2007
Mengetahui,
Kepala SMK JAYABEKA 01 Guru Mata Pelajaran,
........................................... ............................................
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Nama Sekolah : SMK JAYABEKA 01
Mata Pelajaran : Bahasa Inggris
Kelas/semester : X/I
Pertemuan ke : 1-4
Alokasi Waktu : 9 jam x 45 menit
Standar Kompetensi : Berkomunikasi dengan Bahasa Inggris setara
Level Novice
Kompetensi Dasar : Memahami ungkapan-ungkapan dasar pada
interaksi sosial untuk kepentingan kehidupan.
Indikator :
• Ucapan salam pada saat bertemu dan berpisah
• Memperkenalkan diri sendiri dan orang lain
• Berbagai ungkapan terima kasih dan responnya
• Berbagai ungkapan penyesalan dan permintaan maaf serta responnya
Tujuan Pembelajaran
Siswa bisa memahami dan dapat menggunakan ungkapan-ungkapan dasar dengan tepat pada interaksi sosial untuk kepentingan kehidupan.
Materi Pokok
• Good morning, how are you?
• May I introduce my self?
• Thank you, you’re welcome.
• I’m sorry for …
• I – my – she – her
• To be and Verb I
• These, that, etc.
Metode Pembelajaran
• Penugasan
• Tanya Jawab
• Demonstrasi
Langkah-langkah Pembelajaran
B. Kegiatan Pendahuluan
A.1. Apersepsi:
• Berdo’a dan salam
• Pembahasan PR
• Absensi siswa
A.2. Motivasi :
• Perkenalan materi dan manfaatnya untuk memotivasi siswa.
• Menanyakan pada siswa materi yang belum dipahami dan mau ditanyakan atau dibahas kembali.
B. Kegiatan Inti
B. 1. Siswa diberikan penjelasan tentang materi pokok dan tujuannya.
B. 2. Siswa membuat kesimpulan dari kegiatan yang dilakukan.
B. 3. Siswa mengerjakan soal latihan dari buku sumber/modul.
B. 4. Membahas soal yang dianggap sulit oleh siswa.
C. Kegiatan Akhir
C.1. Membuat rangkuman tentang apa yang telah dipelajari.
C.2. Meminta siswa untuk menuliskan apa yang mereka rasakan
selama mengikuti kegiatan belajar.
C.3. Memberi PR dengan mengerjakan soal latihan dari buku sumber.
Alat dan Sumber Belajar
A. Fasilitas:
• Kelas/lab bahasa dan perlengkapannya
• Peralatan yang mendukung
B. Sumber Belajar:
• Global Access to the world of work
• Modul Bahasa Inggris HUP
• English Grammar in Use
• Person to person
• Kamus Inggris- Indonesia
Penilaian
• Prosedur : Tes awal, tes pengamatan/proses, tes akhir
• Jenis tes : Lisan dan tertulis
• Bentuk tes : Uraian
• Soal : Terlampir
• Skor Penilaian : Terlampir
• Kunci Jawaban : Terlampir
Soal
1. Complete these dialogue!
2. Mr. Sheva is visiting Mr. Kaka’s office at 9 am. What should Mr. Kaka’s secretary say to greet Mr. Sheva?
3. ………………………………………………………………………….
4. b. Echa : Good Afternoon, Ergi. How are you?
5. Ergi : ……………………………………...
6. Echa : Nice to meet you.
7. Ergi : ……………………………………...
8. Toni is in class B, and Tono is in class A. … studying at SMKN 8.
9. Sarah : Hi, my name is Sarah, and you?
10. Ayu : Hi, …..
11. We have two cats, … cats are very funny.
12. She … at the supermarket everyday. (work)
13. Look! … is my teacher.
14. Budi : Congratulation on your new job, Andi.
15. Andi : ……………………………………….
16. Budi : You’re welcome.
17. 8. Astri : You broke my glass.
18. Suzy : ……………………
19. 9. Linda : How do you do?
20. Roy : ……………….
21. I live in Bandung, … phone number is 5409661.
Kunci Jawaban Skor
21. a. Good morning
B. – Good afternoon, fine thanks
- nice to meet you too
22. They are
23. my name is Ayu
24. our
25. works
26. that
27. Thank you
28. I’m sorry for breaking your glass
29. How do you do?30. My 1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Skor Maksimum 10
..... , Juli 2007
Mengetahui,
Kepala SMK JAYABEKA 01 Guru Mata Pelajaran,
........................................... ............................................
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Nama Sekolah : SMK JAYABEKA 01
Mata Pelajaran : Bahasa Inggris
Kelas/semester : X/I
Pertemuan ke : 21-32
Alokasi Waktu : 22 jam x 45 menit
Standar Kompetensi : Berkomunikasi dengan Bahasa Inggris setara
Level Novice
Kompetensi Dasar : Menghasilkan tuturan sederhana yang cukup
untuk fungsi-fungsi dasar.
Indikator :
• Ungkapan penyesalan dan permintaan maaf serta responnya
• Ungkapan simpati dan responnya
• Ungkapan berbagai perasaan
• Ungkapan permintaan dan pemberian izin
• Ungkapan perintah dan permintaan
• Ungkapan penawaran barang dan jasa
Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat menghasilkan tuturan sederhana yang cukup untuk fungsi-fungsi dasar.
Materi Pokok
• I’m sorry to hear that
• Happy, sad
• Boring – bored
• May I …?
• V1 + Object! / V1 + articles!
• Would you like to + V1?
Metode Pembelajaran
• Penugasan
• Tanya Jawab
• Demonstrasi
Langkah-langkah Pembelajaran
B. Kegiatan Pendahuluan
A.1. Apersepsi:
• Berdo’a dan salam
• Pembahasan PR
• Absensi siswa
A.2. Motivasi :
• Perkenalan materi dan manfaatnya untuk memotivasi siswa.
• Menanyakan pada siswa materi yang belum dipahami dan mau ditanyakan atau dibahas kembali
B. Kegiatan Inti
B. 1. Siswa diberikan penjelasan tentang materi pokok dan tujuannya.
B. 2.Siswa dibimbing untuk mengucapkan tuturan sederhana dalam bahasa Inggris dengan baik.
B. 3. Dengan bimbingan guru:
B.3.1. Siswa mendiskusikan tentang hasil yang diperoleh.
B.3.2 Siswa membuat kesimpulan dari kegiatan yang dilakukan.
B.3.3 Siswa mengerjakan soal latihan dari buku sumber/modul.
B.3.4 Membahas soal yang dianggap sulit oleh siswa.
C. Kegiatan Akhir
C.1. Membuat rangkuman tentang apa yang telah dipelajari.
C.2. Meminta siswa untuk menuliskan apa yang mereka rasakan
selama mengikuti kegiatan belajar.
C.3. Memberi PR dengan mengerjakan soal latihan dari buku sumber.
Alat dan Sumber Belajar
A. Fasilitas:
• Kelas/lab bahasa dan perlengkapannya
• Peralatan yang mendukung
B. Sumber Belajar:
• Global Access to the world of work
• Modul Bahasa Inggris HUP
• English Grammar in Use
• Person to person
• Kamus Inggris- Indonesia
Penilaian
• Prosedur : Tes awal, tes pengamatan/proses, tes akhir
• Jenis tes : Lisan dan tertulis
• Bentuk tes : Uraian
• Soal : Terlampir
• Skor Penilaian : Terlampir
• Kunci Jawaban : Terlampir
Soal
1. Candra : My mother was sick and she is in the hospital.
Eri : ………………………………………………
2. Imam : I … in my English test.
Samudera : Don’t worry, you can follow the remedial test.
3. Children often become … at meeting. (bored – boring)
4. Our neighbor appear … after their vacation (relaxed – relaxation)
5. I feel … because I have passed the interview.
6. My sister felt so … when she found out her lost wallet.
7. you want to come in the classroom, what do you say?
8. You want to write something, what do you say?
Do you mind …
9. This room is dark, … the light!
10. You offered someone to read a newspaper, what do you say
Would …
Kunci Jawaban Skor
31. I am sorry to hear that
32. failed/get the bad score
33. bored
34. relaxation
35. glad
36. happy
37. May I come in the classroom?
38. Do you mind if I write something?
39. Switch on
40. Would you like to read some newspapers? 1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Skor Maksimum 10
..... , Juli 2007
Mengetahui,
Kepala SMK JAYABEKA 01 Guru Mata Pelajaran,
........................................... ............................................
Kamis, 17 Juni 2010
CORBY...
............................
............................
....you walk into my life...
...................loves with you
.................................
Bingung teks di atas itu apaan? Itu adalah lagu tema sebuah iklan hape (yang jadi judul posting ini). aku pengen banget hape itu. kupikir, aku udah 6 bulan kerja, dengan gaji yang lumayan (lumayan dikit???), kenapa gak bisa beli hape baru yak?
Temenku, si Juri, ketika ngeliat aku masih memiliki same old hapeku, terlengak, "Masih yang itu aja??? Udah kerja di dua tempat, pun???" aku cuma bisa senyum kecut aja...
Pas kuterima gajiku tiap bulan, lagu si corby itu terngiang-ngiang slalu dan kubayangkan si Nicholas Saputra yang ganteng (dan aku sedikit gak peduli dengan Dian Sastro :-) yang ada di iklan itu. Tapi kemudian aku teringat lagi...uang belanja untuk ummi (kalo enggak, ntar kami gak makan, karna babe gak ngasih uang belanja buat beli lauk....), donasi untuk organisasiku dulu di kampus (yang sangat kucintai), kulihat tasku udah jebol, baju-baju buat ngajar yang kebanyakan "sisa-sisa" dari kuliah...dan semua itu harus dipenuhi!!! Belum lagi harus nabung buat nambah-nambah biaya walimah (ehm......!). Oh..Corby..satu koma dua juta hargamu...tabunganku di bank ada cuma 400ribu, masih 800ribu lagi...
Aku janji..kalo tabunganku ada 800ribu, aku akan langsung menyergapmu di Millenium Plaza (or at least, Aksara pun jadilah!). tapi kemudian aku harus meneguk ludahku kembali dan hanya bisa mendendangkan lagu temamu dalam hatiku, saat seorang kolega mengajarku mengatakan "Bulan ini kita tidak digaji, kalo mau dapat duit, cari murid baru banyak-banyak, dan ongkos kita nyari murid itu tidak ditanggung yayasan!"
God!!!!
............................
............................
....you walk into my life...
...................loves with you
.................................
............................
....you walk into my life...
...................loves with you
.................................
Bingung teks di atas itu apaan? Itu adalah lagu tema sebuah iklan hape (yang jadi judul posting ini). aku pengen banget hape itu. kupikir, aku udah 6 bulan kerja, dengan gaji yang lumayan (lumayan dikit???), kenapa gak bisa beli hape baru yak?
Temenku, si Juri, ketika ngeliat aku masih memiliki same old hapeku, terlengak, "Masih yang itu aja??? Udah kerja di dua tempat, pun???" aku cuma bisa senyum kecut aja...
Pas kuterima gajiku tiap bulan, lagu si corby itu terngiang-ngiang slalu dan kubayangkan si Nicholas Saputra yang ganteng (dan aku sedikit gak peduli dengan Dian Sastro :-) yang ada di iklan itu. Tapi kemudian aku teringat lagi...uang belanja untuk ummi (kalo enggak, ntar kami gak makan, karna babe gak ngasih uang belanja buat beli lauk....), donasi untuk organisasiku dulu di kampus (yang sangat kucintai), kulihat tasku udah jebol, baju-baju buat ngajar yang kebanyakan "sisa-sisa" dari kuliah...dan semua itu harus dipenuhi!!! Belum lagi harus nabung buat nambah-nambah biaya walimah (ehm......!). Oh..Corby..satu koma dua juta hargamu...tabunganku di bank ada cuma 400ribu, masih 800ribu lagi...
Aku janji..kalo tabunganku ada 800ribu, aku akan langsung menyergapmu di Millenium Plaza (or at least, Aksara pun jadilah!). tapi kemudian aku harus meneguk ludahku kembali dan hanya bisa mendendangkan lagu temamu dalam hatiku, saat seorang kolega mengajarku mengatakan "Bulan ini kita tidak digaji, kalo mau dapat duit, cari murid baru banyak-banyak, dan ongkos kita nyari murid itu tidak ditanggung yayasan!"
God!!!!
............................
............................
....you walk into my life...
...................loves with you
.................................
Jumat, 12 Maret 2010
The Life After Convocation (a never ending story)
seumur2 dauroh di kammi dulu, punya cita2 gede banget m'jadi moslem negarawan yg menggunakan potensi diri utk kebaekan umat. yah geto deh..tau kan? tau dong...
pada waktu itu mungkin (memang, bukan mungkin lagi) diriku tidak/belum menghadapi realita yang sebenarnya.
this is it!
i'm strayed in a place called 'school', a place where i'm working in. here, my idealism which i used to grow in kammi seems to be dead in a very pethatic way.
here, i see so many creatures that i'm reluctant to call them my students (????). am i a bad teacher? call me so. but i can hardly stand a longer time with them. they are the people that as strayed as i am in that school too. sometimes i dont wanna blame them.. sometimes i yell at them asking why they should behave like uncivilized people like that?
SO?
i guess, this is all caused by:
- the undisciplined system created by school
- what they expect differs from the reality happens
let me tell u what:
me myself already get bored with the condition of school. poor administration, poor location, poor rooms... who said that we dont need conveniety?
worse, in every new term, we will be insisted to "wander" seeking some "preys" to be persuaded (perceived???) wasting their young age there...
it's like a reign of devil.. never meet an ending of this f***king condition.
kemudian, yang aku pelajari dari dauroh2 di kammi itu...qt sebagai moslem negarawan, intinya, harus bisa menjadi director of change, a.k.a. problem solver. tapiiiii, gimana yah? i think this school is similar to Indonesia, it's got a much complicated problems, yang solusinya tak lain dan tak bukan (mungkin, ah,,gila main kemungkinan aja?!) adalah dengan cara radikalisme????
(leave or live in a confusions?)
today, i've just realized another pethatic fact: some teachers whose rather same ideology with me have quit since Monday (actually they're fired; disloyality? i prefer to say that they're looking for a better place to implement their ideology). i feel like i'm gonna be soooooo lonely here...
maybe i wont last for a long time there. fine by me. i believe, the longer i spend time there, not any better i become.
may Alloh still bless me with His blessing and favor. amin..
Epilog:
sebenarnya note ini kacau balau sekali.... sebnrnya mau curhat ttg how i survive here.. tapi karena too complicated (can i say so?), beginilah jadinya. terserah! yang penting leghaaaaaa....
pada waktu itu mungkin (memang, bukan mungkin lagi) diriku tidak/belum menghadapi realita yang sebenarnya.
this is it!
i'm strayed in a place called 'school', a place where i'm working in. here, my idealism which i used to grow in kammi seems to be dead in a very pethatic way.
here, i see so many creatures that i'm reluctant to call them my students (????). am i a bad teacher? call me so. but i can hardly stand a longer time with them. they are the people that as strayed as i am in that school too. sometimes i dont wanna blame them.. sometimes i yell at them asking why they should behave like uncivilized people like that?
SO?
i guess, this is all caused by:
- the undisciplined system created by school
- what they expect differs from the reality happens
let me tell u what:
me myself already get bored with the condition of school. poor administration, poor location, poor rooms... who said that we dont need conveniety?
worse, in every new term, we will be insisted to "wander" seeking some "preys" to be persuaded (perceived???) wasting their young age there...
it's like a reign of devil.. never meet an ending of this f***king condition.
kemudian, yang aku pelajari dari dauroh2 di kammi itu...qt sebagai moslem negarawan, intinya, harus bisa menjadi director of change, a.k.a. problem solver. tapiiiii, gimana yah? i think this school is similar to Indonesia, it's got a much complicated problems, yang solusinya tak lain dan tak bukan (mungkin, ah,,gila main kemungkinan aja?!) adalah dengan cara radikalisme????
(leave or live in a confusions?)
today, i've just realized another pethatic fact: some teachers whose rather same ideology with me have quit since Monday (actually they're fired; disloyality? i prefer to say that they're looking for a better place to implement their ideology). i feel like i'm gonna be soooooo lonely here...
maybe i wont last for a long time there. fine by me. i believe, the longer i spend time there, not any better i become.
may Alloh still bless me with His blessing and favor. amin..
Epilog:
sebenarnya note ini kacau balau sekali.... sebnrnya mau curhat ttg how i survive here.. tapi karena too complicated (can i say so?), beginilah jadinya. terserah! yang penting leghaaaaaa....
Jumat, 23 Oktober 2009
Detik-detik Menjelang 18 November 2009
Written: @my fb-notes, Wednesday, 21 October 2009, 9.58 pm
Tanggal di jdl adl tgl di mana, insya Alloh, aku wisuda dr kmps "tercinta" IAIN SU. sebelum benar2 balek ke kampong halaman, ada hal yang mesti kuniatkan untuk betul2 terlaksana:
1. berkontribusi di Humas KAMMI Daerah SU
yang pertama ini,,,,sebenarnya sungguh berat (ambigu). berat, karena aku sprny hmpr2 "tewas" menerima amanah sebagai sekdep, dan berat, karena, KAMMI adalah salah satu vena dalam hidupku, jadi, meninggalkannya, seperti memutus salah satu urat di tangan...
aku sadar, aku tlah berdosa menyia2kan amanah teman2 di KAMDA (esp. Humas). maaf, kata MAAF memang akhirnya harus terucap.. teman, aku kan katakan aku tak sanggup menjanjikan kontribusi yang "wah" buat kalian. mungkinpun, malah segunungsamudra kekecewaan kuhadiahkan buat kalian. tapi, Dear Alloh, aku berharap Kau sudi memberiku kekuatan dan kesempatan untuk "meninggalkan sesuatu" di sebuah tempat yang sangat kucintai 4 tahun terakhir ini: Humas KAMMI (komsat dan Daerah, coz they where i was and belonging now). aku harap, teman2 di humas tidak ber"nasib" sama dengan siti khodijah yang lalai dan abai ini...Amiin
2. Munaqasyah (sidang skripsi) segera!
bagiku, ukuran "nilai" ketika kuliah, sekolah, krja, and so on, ada 2: value dan score. bukannya takabur, tapi, yang kukejar hanyalah value itu. score (as: IP 4,00, naek jabatan, ranking sekian2) hanyalah ungkapan terima kasihku kepada orang tuaku dan abangku yang sudah membiayai kuliahku selama ini. munaqasyah, adalah pembuktian value dan score-ku sekaligus. Ya Alloh, berilah aku kekuatan dan kesempatan untuk berbakti kepada ummi dan babah, aak, dan ode, dengan wisudanya, seorang siti khodijah lubis 18 November 2009. amiin
3. Meliqo-kan adik2ku yg sekarang (msh mentoring) dan memberi mereka penggantiku yang lebih baik
Aku sadar, aku bukan pementor yang baik, lalai, bukan uswah yang hasanah. namun ya Alloh, berilah aku kekuatan dan kesempatan agar aku tidak menjadikan mereka "generasi kecewa" sehingga mereka "lalai" dan abai dari jamaah ini. Ya Rabb, beri aku kesempatan agar mereka bangga dan bahagia menyebut "Itu kakak kami!" ketika mereka bertemu denganku...Amiin.
4. Berpisah dengan ahsan dengan semua teman2 di Medan
Wordless, speechless. bahkan membayangkan "perpisahan" itu sendiri telah mengiris-iris jiwa....
Allahumma Rabbana, perkenankanlah harapan hamba. Amiin
Tanggal di jdl adl tgl di mana, insya Alloh, aku wisuda dr kmps "tercinta" IAIN SU. sebelum benar2 balek ke kampong halaman, ada hal yang mesti kuniatkan untuk betul2 terlaksana:
1. berkontribusi di Humas KAMMI Daerah SU
yang pertama ini,,,,sebenarnya sungguh berat (ambigu). berat, karena aku sprny hmpr2 "tewas" menerima amanah sebagai sekdep, dan berat, karena, KAMMI adalah salah satu vena dalam hidupku, jadi, meninggalkannya, seperti memutus salah satu urat di tangan...
aku sadar, aku tlah berdosa menyia2kan amanah teman2 di KAMDA (esp. Humas). maaf, kata MAAF memang akhirnya harus terucap.. teman, aku kan katakan aku tak sanggup menjanjikan kontribusi yang "wah" buat kalian. mungkinpun, malah segunungsamudra kekecewaan kuhadiahkan buat kalian. tapi, Dear Alloh, aku berharap Kau sudi memberiku kekuatan dan kesempatan untuk "meninggalkan sesuatu" di sebuah tempat yang sangat kucintai 4 tahun terakhir ini: Humas KAMMI (komsat dan Daerah, coz they where i was and belonging now). aku harap, teman2 di humas tidak ber"nasib" sama dengan siti khodijah yang lalai dan abai ini...Amiin
2. Munaqasyah (sidang skripsi) segera!
bagiku, ukuran "nilai" ketika kuliah, sekolah, krja, and so on, ada 2: value dan score. bukannya takabur, tapi, yang kukejar hanyalah value itu. score (as: IP 4,00, naek jabatan, ranking sekian2) hanyalah ungkapan terima kasihku kepada orang tuaku dan abangku yang sudah membiayai kuliahku selama ini. munaqasyah, adalah pembuktian value dan score-ku sekaligus. Ya Alloh, berilah aku kekuatan dan kesempatan untuk berbakti kepada ummi dan babah, aak, dan ode, dengan wisudanya, seorang siti khodijah lubis 18 November 2009. amiin
3. Meliqo-kan adik2ku yg sekarang (msh mentoring) dan memberi mereka penggantiku yang lebih baik
Aku sadar, aku bukan pementor yang baik, lalai, bukan uswah yang hasanah. namun ya Alloh, berilah aku kekuatan dan kesempatan agar aku tidak menjadikan mereka "generasi kecewa" sehingga mereka "lalai" dan abai dari jamaah ini. Ya Rabb, beri aku kesempatan agar mereka bangga dan bahagia menyebut "Itu kakak kami!" ketika mereka bertemu denganku...Amiin.
4. Berpisah dengan ahsan dengan semua teman2 di Medan
Wordless, speechless. bahkan membayangkan "perpisahan" itu sendiri telah mengiris-iris jiwa....
Allahumma Rabbana, perkenankanlah harapan hamba. Amiin
Senin, 10 Agustus 2009
Where The Destiny Takes Me...
Akhirnya aku curhat juga di sini. pfff.. Kupikir tidak akan pernah ;-)
Betapa kesedihan-kesedihan sepertinya menderaku.
1. Ketika itu aku sibuk di KAMMDA ditambah lagi revisi proposalku ke PS1, sehingga aku belum mengeprint KHS semester 8
2. Ketika semua telah selesai, ternyata printer di Jurusan dibawa oleh bagian keuangan
3. Seminggu berlalu, dan ternyata, belum dikembalikan juga printer itu!
4. Akhirnya....KHSku kembali juga, tapi....
5. Pembimbing Akademisku sakit, diopname, jadinya dia tidak bisa menandatangani KHS dan blanko transkrip nilaiku....
6. Seminggu berlalu, 3 hari lagi bayar SPP, PA-ku belum ke kampus2 juga. Bosan sudah selama dua minggu bolak-balik ke kampus, bertanya kepada penjaga perpus: "Bu Zu****h-nya, ada, kak?" yang dijawab ketus: "Nggak!"
7. Pagi ini, dengan mengumpulkan segenap keberanian di dada kutelepon dia:
DJ: bu, maaf mengganggu sebelumnya. saya dije, mahasiswa yang PA-nya ibu, perlu tanda tangan KHS
PA: saya mau pergi
DJ; kapan ibu ke kampus?
PA: Jum'at
DJ: bisa ketemunya kapan ya, bu? bentar lagi kan mau bayar SPP, sa....
cklek..tut..tut..tut..
Ya Allah, dia menutup telepon itu secara sepihak!
tidak taukah dia, bahwa nilai Rp 150.000,- itu sangat berarti bagiku?
(Begini saudara2. Kalau kami mengurus surat bersih mata kuliah dan non aktif, maka uang kuliah dipotong 50%, uang kuliah kami Rp 300.000,-, jadi seharusnya aku bisa bayar separuhnya, karena AKU NGGAK PERNAH DAPAT C, APALAGI, D DAN E PADA SEMUA MATA KULIAHKU, jadi secara de facto, aku layak bayar separoh. namun secara de jure, nasib berkata lain karena hal yang bertele-tele -administrasi kampus IAIN SU ini....- dan lumayan sepele ini -cuma sebiji tanda tangan di transkrip nilai!!!!!!)
Tanpa tanda tangan PA, maka tidak ada transkrip nilai, tanpa transkrip nilai, tidak ada surat bersih mata kuliah, tanpa surat bersih mata kuliah, tidak ada surat non aktir kuliah, tanpa surat non aktif kuliah, TIDAK ADA BAYAR UANG KULIAH SEPAROH...
Ya Allah, ya Rabb, hanya kepada-Mu lah kuserahkan nasibku. kuyakin Engkaulah yang maha tahu yang terbaik buat hamba-Mu ini... Tapi ya Allah, kumohon, bantulah hamba-Mu ini, agar aku dapat meringankan beban orang tuaku di kampung. Pahamkanalah Miss Zu****h itu, bahwa 150ribu itu means a lot bagi saya. Amiin.
Betapa kesedihan-kesedihan sepertinya menderaku.
1. Ketika itu aku sibuk di KAMMDA ditambah lagi revisi proposalku ke PS1, sehingga aku belum mengeprint KHS semester 8
2. Ketika semua telah selesai, ternyata printer di Jurusan dibawa oleh bagian keuangan
3. Seminggu berlalu, dan ternyata, belum dikembalikan juga printer itu!
4. Akhirnya....KHSku kembali juga, tapi....
5. Pembimbing Akademisku sakit, diopname, jadinya dia tidak bisa menandatangani KHS dan blanko transkrip nilaiku....
6. Seminggu berlalu, 3 hari lagi bayar SPP, PA-ku belum ke kampus2 juga. Bosan sudah selama dua minggu bolak-balik ke kampus, bertanya kepada penjaga perpus: "Bu Zu****h-nya, ada, kak?" yang dijawab ketus: "Nggak!"
7. Pagi ini, dengan mengumpulkan segenap keberanian di dada kutelepon dia:
DJ: bu, maaf mengganggu sebelumnya. saya dije, mahasiswa yang PA-nya ibu, perlu tanda tangan KHS
PA: saya mau pergi
DJ; kapan ibu ke kampus?
PA: Jum'at
DJ: bisa ketemunya kapan ya, bu? bentar lagi kan mau bayar SPP, sa....
cklek..tut..tut..tut..
Ya Allah, dia menutup telepon itu secara sepihak!
tidak taukah dia, bahwa nilai Rp 150.000,- itu sangat berarti bagiku?
(Begini saudara2. Kalau kami mengurus surat bersih mata kuliah dan non aktif, maka uang kuliah dipotong 50%, uang kuliah kami Rp 300.000,-, jadi seharusnya aku bisa bayar separuhnya, karena AKU NGGAK PERNAH DAPAT C, APALAGI, D DAN E PADA SEMUA MATA KULIAHKU, jadi secara de facto, aku layak bayar separoh. namun secara de jure, nasib berkata lain karena hal yang bertele-tele -administrasi kampus IAIN SU ini....- dan lumayan sepele ini -cuma sebiji tanda tangan di transkrip nilai!!!!!!)
Tanpa tanda tangan PA, maka tidak ada transkrip nilai, tanpa transkrip nilai, tidak ada surat bersih mata kuliah, tanpa surat bersih mata kuliah, tidak ada surat non aktir kuliah, tanpa surat non aktif kuliah, TIDAK ADA BAYAR UANG KULIAH SEPAROH...
Ya Allah, ya Rabb, hanya kepada-Mu lah kuserahkan nasibku. kuyakin Engkaulah yang maha tahu yang terbaik buat hamba-Mu ini... Tapi ya Allah, kumohon, bantulah hamba-Mu ini, agar aku dapat meringankan beban orang tuaku di kampung. Pahamkanalah Miss Zu****h itu, bahwa 150ribu itu means a lot bagi saya. Amiin.
HUKUMAN BUAT SANG USTADZ
Mungkin kalian tidak akan percaya jika membaca kisah ini. Namun kisah ini benar adanya.
Saya mempunyai seorang teman, sebut saja namanya Hilwa. Sewaktu Aliyah dulu, dia tinggal di pesantren. Di pesantren itu, Hilwa mempunyai seorang ustadz, sebut saja Ustadz Zen. Ustadz Zen adalah ustadz yang baik, saleh, dan cerdas. Bahkan dia seorang lulusan Mesir.
Ada satu hal yang aneh pada diri ustadz. Bila ia membaca kitab fiqh, maka pandangannya akan “gelap”. Gelap di sini bukan berarti ketika ia membuka kitab fiqh itu, maka lembaran-lembarannya akan berubah menjadi hitam. Bukan sama sekali. Namun, maksudnya, kalau ustadz membaca kitab fiqh (siapapun pengarangnya), maka dia akan susah sekali menangkap maksud dari kitab itu. Bahkan sekuat apapun ustadz Zen memaksakan otaknya untuk berkonsentrasi, maka tetaplah ia tidak dapat menangkap isi kitab fiqh tersebut.
Tentu Hilwa dan teman-temannya bertanya-tanya apa yang menyebabkan gelapnya pandangan ustadz ketika membaca kitab fiqh. Maka, ustadzpun bercerita:
Dulu ketika ustadz masih nyantri di pesantren, ustadz lumayan nakal, meski tetap diakui beliau cerdas. Ustadz Zen muda punya seorang ustadz di pesantrennya, seorang guru mata pelajaran fiqh, sebut saja Buya. Buya ini adalah seorang ustadz yang sederhana. Kesederhanaan Buya sering dijahili oleh ustadz Zen muda.
Contohnya saja, Buya mempunyai tas tempat ia menyimpan buku-buku yang dibawanya ketika mengajar. Tas itu tidak seperti tas guru kebanyakan yang biasanya terbuat dari kulit. Tapi tas itu terbuat dari goni plastik, seperti tas yang sering dibawa ibu-ibu ketika belanja di pasar. Buya sering menyuruh murid-muridnya untuk membawakan tas itu ke ruang kelas.
“Zen, tolong bawakan tas Buya ke kelas, ya,” pintanya.
Ustadz Zen muda patuh membawanya ke kelas. Tapi, apa yang dilakukannya pada tas itu? Tas itu digantungkannya pada paku di atas dinding, bukan di atas meja guru.
“Mana tas saya, Zen?” tanya Buya ketika tiba di kelas.
“Tuh,” tunjuk Zen muda pada dinding kelas. Sontak seisi kelas menertawai Buya. Buya hanya tersenyum tipis dengan muka memerah menahan malu sambil menurunkan tasnya.
Lain waktu, ketika Buya hendak pulang dengan motor butut kesayangannya (sejenis motor Astuti –astrea tujuh tiga, jadul bangetlah pokoknya!), Zen dan kawan-kawan melintas.
“Mogok ya, Buya?” tanya Zen ketika melihat Buya mengengkol motornya, susah payah. Buya hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Mau korek, nggak Buya?” (maksudnya biar dibakar sekalian saja motornya) timpal Zen lagi, disambut gerrr kawan-kawannya. Lagi-lagi, Buya hanya tersenyum.
Suatu ketika Zen lulus Aliyah, ia mendaftarkan diri kuliah di Mesir…dan lulus! Zen sangat bersyukur dan ingin pamitan sekaligus meminta restu kepada ustadz-ustadz di pesantrennya, termasuk….Buya.
Tibalah giliran Buya disalami Zen. Sambil menangis, karena mengingat kebandelannya dulu, Zen meminta maaf kepada Buya.
“Buya, lapangkanlah hati Buya untuk menerima maaf Zen. Zen benar-benar menyesal atas kenakalan Zen dulu, Buya. Zen minta doa Buya mengiringi Zen pergi ke Mesir,” sesal Zen sungguh-sungguh.
Buya pun mengangguk-angguk sambil melelehkan airmatanya pula.
“Iya, nak. Sebelum kau minta maaf pun, sudah Buya maafkan dirimu sedari dulu,” ujar Buya sambil mengelus pundaknya.
Zen pun pergi ke Mesir dengan membawa doa restu ustadz-ustadz di pesantrennya dulu. Tapi, ada satu keanehan terjadi pada dirinya.
Bilamana ia membaca kitab fiqh, ia sulit…sekali menangkapnya dan menyimpannya di memori. Padahal sepertinya sudah dikerahkan seluruh kemampuan otaknya untuk memindai seluruh tulisan-tulisan di kitab itu. Anehnya lagi, kejadian ini tidak berlaku pada mata pelajaran yang lain. Pada mata pelajaran lain, dengan mudah Zen menangkapnya ketika membaca buku yang bersangkutan. Hanya pada mata pelajaran fiqh lah, Zen benar-benar “gelap” saat membaca buku-bukunya, karangan ulama manapun. Dan hal itu tetap berlangsung sampai sekarang.
Hilwa berkata bahwa mereka benar-benar melihat airmata ustadz Zen mengalir ketika menceritakan kisahnya kepada Hilwa dan teman-teman sekelas, menandakan bahwa ustadz tidaklah main-main atas kisahnya ini.
Terkadang ketika kita menyakiti hati seseorang kita tidak menyadari ada ‘sesuatu’ yang telah benar-benar tergores pada dirinya. Buya, adalah sosok yang sederhana, tawadhu’, dan ikhlas. Hilwa bilang, mungkin Allah sangat menyayangi Buya, sehingga, ketika ‘sesuatu’ itu tergores, menyebabkan Allah marah. Dan, hukumannya bisa berupa apa saja. Meskipun kata Buya, ia telah sungguh-sungguh menerima maaf Zen. Tapi, ‘sesuatu’ telah tergores pada dirinya.
Selama ini mungkin kita suka menyakiti hati seseorang, baik lewat tindakan kita maupun lewat ucapan. Dan kita mungkin tidak pernah berpikir apakah orang itu akan cepat melupakan kesalahan kita itu, dan lantas memaafkan, atau tidak. Karena, meminta maaf pada saat kesalahan itu terjadi pun, belum tentu pernah. Kita tidak pernah tahu, apakah Allah akan segera membalas perbuatan kita itu, atau menundanya di akhirat. Kita juga tidak akan pernah tahu, apakah kita akan sanggup menanggung hukuman dari Allah itu, atau tidak. Terlebih-lebih bila orang yang kita sakiti itu adalah orang yang seharusnya kita hormati (orang tua, guru, murabbi, dll). Yah, sebaiknya kita memang memikirkan dahulu akibat perbuatan kita, sebelum kita melakukannya.
Saya mempunyai seorang teman, sebut saja namanya Hilwa. Sewaktu Aliyah dulu, dia tinggal di pesantren. Di pesantren itu, Hilwa mempunyai seorang ustadz, sebut saja Ustadz Zen. Ustadz Zen adalah ustadz yang baik, saleh, dan cerdas. Bahkan dia seorang lulusan Mesir.
Ada satu hal yang aneh pada diri ustadz. Bila ia membaca kitab fiqh, maka pandangannya akan “gelap”. Gelap di sini bukan berarti ketika ia membuka kitab fiqh itu, maka lembaran-lembarannya akan berubah menjadi hitam. Bukan sama sekali. Namun, maksudnya, kalau ustadz membaca kitab fiqh (siapapun pengarangnya), maka dia akan susah sekali menangkap maksud dari kitab itu. Bahkan sekuat apapun ustadz Zen memaksakan otaknya untuk berkonsentrasi, maka tetaplah ia tidak dapat menangkap isi kitab fiqh tersebut.
Tentu Hilwa dan teman-temannya bertanya-tanya apa yang menyebabkan gelapnya pandangan ustadz ketika membaca kitab fiqh. Maka, ustadzpun bercerita:
Dulu ketika ustadz masih nyantri di pesantren, ustadz lumayan nakal, meski tetap diakui beliau cerdas. Ustadz Zen muda punya seorang ustadz di pesantrennya, seorang guru mata pelajaran fiqh, sebut saja Buya. Buya ini adalah seorang ustadz yang sederhana. Kesederhanaan Buya sering dijahili oleh ustadz Zen muda.
Contohnya saja, Buya mempunyai tas tempat ia menyimpan buku-buku yang dibawanya ketika mengajar. Tas itu tidak seperti tas guru kebanyakan yang biasanya terbuat dari kulit. Tapi tas itu terbuat dari goni plastik, seperti tas yang sering dibawa ibu-ibu ketika belanja di pasar. Buya sering menyuruh murid-muridnya untuk membawakan tas itu ke ruang kelas.
“Zen, tolong bawakan tas Buya ke kelas, ya,” pintanya.
Ustadz Zen muda patuh membawanya ke kelas. Tapi, apa yang dilakukannya pada tas itu? Tas itu digantungkannya pada paku di atas dinding, bukan di atas meja guru.
“Mana tas saya, Zen?” tanya Buya ketika tiba di kelas.
“Tuh,” tunjuk Zen muda pada dinding kelas. Sontak seisi kelas menertawai Buya. Buya hanya tersenyum tipis dengan muka memerah menahan malu sambil menurunkan tasnya.
Lain waktu, ketika Buya hendak pulang dengan motor butut kesayangannya (sejenis motor Astuti –astrea tujuh tiga, jadul bangetlah pokoknya!), Zen dan kawan-kawan melintas.
“Mogok ya, Buya?” tanya Zen ketika melihat Buya mengengkol motornya, susah payah. Buya hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Mau korek, nggak Buya?” (maksudnya biar dibakar sekalian saja motornya) timpal Zen lagi, disambut gerrr kawan-kawannya. Lagi-lagi, Buya hanya tersenyum.
Suatu ketika Zen lulus Aliyah, ia mendaftarkan diri kuliah di Mesir…dan lulus! Zen sangat bersyukur dan ingin pamitan sekaligus meminta restu kepada ustadz-ustadz di pesantrennya, termasuk….Buya.
Tibalah giliran Buya disalami Zen. Sambil menangis, karena mengingat kebandelannya dulu, Zen meminta maaf kepada Buya.
“Buya, lapangkanlah hati Buya untuk menerima maaf Zen. Zen benar-benar menyesal atas kenakalan Zen dulu, Buya. Zen minta doa Buya mengiringi Zen pergi ke Mesir,” sesal Zen sungguh-sungguh.
Buya pun mengangguk-angguk sambil melelehkan airmatanya pula.
“Iya, nak. Sebelum kau minta maaf pun, sudah Buya maafkan dirimu sedari dulu,” ujar Buya sambil mengelus pundaknya.
Zen pun pergi ke Mesir dengan membawa doa restu ustadz-ustadz di pesantrennya dulu. Tapi, ada satu keanehan terjadi pada dirinya.
Bilamana ia membaca kitab fiqh, ia sulit…sekali menangkapnya dan menyimpannya di memori. Padahal sepertinya sudah dikerahkan seluruh kemampuan otaknya untuk memindai seluruh tulisan-tulisan di kitab itu. Anehnya lagi, kejadian ini tidak berlaku pada mata pelajaran yang lain. Pada mata pelajaran lain, dengan mudah Zen menangkapnya ketika membaca buku yang bersangkutan. Hanya pada mata pelajaran fiqh lah, Zen benar-benar “gelap” saat membaca buku-bukunya, karangan ulama manapun. Dan hal itu tetap berlangsung sampai sekarang.
Hilwa berkata bahwa mereka benar-benar melihat airmata ustadz Zen mengalir ketika menceritakan kisahnya kepada Hilwa dan teman-teman sekelas, menandakan bahwa ustadz tidaklah main-main atas kisahnya ini.
Terkadang ketika kita menyakiti hati seseorang kita tidak menyadari ada ‘sesuatu’ yang telah benar-benar tergores pada dirinya. Buya, adalah sosok yang sederhana, tawadhu’, dan ikhlas. Hilwa bilang, mungkin Allah sangat menyayangi Buya, sehingga, ketika ‘sesuatu’ itu tergores, menyebabkan Allah marah. Dan, hukumannya bisa berupa apa saja. Meskipun kata Buya, ia telah sungguh-sungguh menerima maaf Zen. Tapi, ‘sesuatu’ telah tergores pada dirinya.
Selama ini mungkin kita suka menyakiti hati seseorang, baik lewat tindakan kita maupun lewat ucapan. Dan kita mungkin tidak pernah berpikir apakah orang itu akan cepat melupakan kesalahan kita itu, dan lantas memaafkan, atau tidak. Karena, meminta maaf pada saat kesalahan itu terjadi pun, belum tentu pernah. Kita tidak pernah tahu, apakah Allah akan segera membalas perbuatan kita itu, atau menundanya di akhirat. Kita juga tidak akan pernah tahu, apakah kita akan sanggup menanggung hukuman dari Allah itu, atau tidak. Terlebih-lebih bila orang yang kita sakiti itu adalah orang yang seharusnya kita hormati (orang tua, guru, murabbi, dll). Yah, sebaiknya kita memang memikirkan dahulu akibat perbuatan kita, sebelum kita melakukannya.
Ramadhan Tahun Ini
Oleh: Siti Khodijah Lubis*
Seperti tidak percaya aku melihatnya di rumah itu. Persis seperti dikatakan Nek Ijah, Bu Yati, dan orang-orang yang lewat ketika aku baru pulang kerja, dua minggu lamanya di Pasar Malam. Dia kini duduk di atas pangkuan laki-laki itu. Dengan permen lollipop di mulutnya. Laki-laki itu tertawa-tawa bersamanya. Tawa serigala. Laki-laki itu….pacarnya??!
Permen lollipop itu jatuh ke lantai marmer putih teras rumahnya ketika dengan sekuat tenaga aku menjerit: memanggil namanya.
****
Ramadhan 2 tahun yang lalu
Bukannya aku tak menyangka ia akan pergi secepat ini. Memang penyakit TBC yang dideritanya sudah kronis.
“Kenapa tidak dibawa ke puskesmas saja? Kan katanya gratis?” kata Bu Aminah, ketua perwiritan ibu-ibu Nagori Bandar, kampong kami.
Aku menarik napas. Tidak menjawab. Dia tidak tahu, apa pura-pura tidak tahu? Puskesmas yang letaknya di belakang balai desa itu seperti kandang kambing saja. Sudah hampir 8 tahun tidak ada petugas kesehatan yang mengabdi di sana. Jangan coba-coba sarankan kami membawa dia, ibuku, ke klinik, rumah sakit, atau dokter praktek! Jangankan untuk biaya periksa, ongkos ke sana pun kami tak punya. Makan dua kali sehari sudah untung bagi kami.
Kusapukan pandangan ke seluruh rumah. Duduk di dekat pintu, ayah, diam dengan tatapan kosong. Ayah selalu diam dalam menghadapi masalah apapun. Para tetamu dan tetangga hilir mudik, dating dan pergi. Di sampingku, Anggi, adikku satu-satunya menyeka air mata dan ingusnya dengan jilbabku. Sedari tadi aku hanya mampu menepuk-nepuk punggungnya, tanpa bisa berkata apa-apa. Anak kelas 5 SD ini, paling kehilangan dengan kepergian ibu. Sementara air terus mengalir membajiri kelopak mataku. Kesedihan ini terlalu mendalam.
Kemiskinan ini… Nagori Bandar yang sunyi… Kampung yang terletak di pinggiran jalinsum (jalan lintas Sumatra) di Kabupaten Simalungun ini adalah kampung yang cukup paradoks bagiku, Yuyun, umur 14 tahun, putus sekolah sejak kelas 6 SD. Jika kalian kemari, kalian mungkin bisa melihat rumah-rumah gedong bertingkat, berlantai keramik. Tentu, mereka orang kaya. Pekerjaan mereka adalah pegawai negeri, pensiunan kantor pemerintah atau pengurus partai politik tertentu. Gaji mereka banyak? Mungkin, mana aku tahu? Sebagian mereka juga pengusaha. Kalian bisa lihat konter-konter hape di depan rumah mereka, atau kafe itu (milik Bu Farida, wakil kepala sekolah MTs Negeri Bandar), atau salon milik Nyonya Annah? Tapi, pernahkah kalian mencoba berjalan masuk ke dalam gang-gang di balik beberapa rumah gedong itu? Sederetan rumah dari anyaman bambu beratap rumbia dapat kau temui. Kebanyakan mereka adalah pekerja serabutan: kuli bangunan, kuli tani (seperti ayahku, yang bekerja di ladang jagung Haji Sanusi), tukang becak, bahkan banyak janda; janda ditinggal mati dan janda ditinggal kawin lagi. Banyak.
Paradoks, bukan? Tak usah dijawab, karena aku yakin di daerah manapun di negara kita ini juga banyak paradoks serupa kampungku.
Menanggungkan sempitnya lapangan kerja di Bandar, juga di Perdagangan, kota perbatasan kampungku, ditambah pendidikan yang rendah (lagi-lagi karena miskin!) para pemuda nagori ini gemar berpetualang keluar nagori. Sebagian berhasil, sebagian tidak. Mereka yang gagal dan kembali berubah menjadi preman, meresahkan warga, meresahkan anak-anak gadis yang mereka goda.
Pagi itu, tanggal 1 Ramadhan. Tentu, seperti orang Islam yang lain, kami juga puasa. Tidak pun bulan Ramadhan, kami juga sering puasa. Bukan karena melaksanakan puasa sunnah. Tidak, tidak. Tapi karena kami tidak punya banyak uang. Hasil panen jagung ladang Haji Sanusi tidak begitu banyak. Cuaca tidak menentu, kadang hujan, kadang panas. Ah, hampir tiap hari hujan. Sehingga ladang-ladang itu, yang terletak di pinggir sungai Lombang, sering terendam air.
Pagi itu, seharusnya kami menikmati hari pertama Ramadhan kami dengan suka cita. Kami; ayah, ibu, Anggi, dan aku. Tapi, Allah hendak menguji kami dengan memanggil ibu ke haribaan-Nya. Seperti yang kubilang tadi, TBCnya sudah kronis. Tidak pernah diobati. Dan juga, kelaparan-kelaparan yang mendera hari-hari kami.. Mungkin Allah hendak melepaskan kesengsaraan di jiwa dan raga ibu.
****
Ramadhan 1 tahun yang lalu
“Yah, Ayah mau pergi ke mana?” rengek Anggi –yang sebentar lagi nasibnya akan seperti aku: putus sekolah, tidak melanjut ke SMP- menari-narik gamis ayah.
Ayah tak hirau sambil terus memasukkan baju-baju gamisnya dan buku-buku yang selalu dibacanya tiap malam.
Aku yang baru pulang sebentar dari kafe Bu Farida ikut bertanya juga setelah meletakkan kuah soto (hanya kuahnya) ke mangkok.
“Ayah mau khuruj lagi? Berapa hari, Yah?”tanyaku.
“Tidak lama,”katanya.
“Tiga hari?”dia menggeleng. “Tujuh?”tetap menggeleng.
“Dua minggu?”aku terus menyebut jumlah hari di mana ayah paling lama keluar (menurut istilah kelompok pengajian ayah: khuruj, seperti kubilang tadi), berdakwah katanya. Dan dia tetap menggeleng.
“Cuma sebentar,” katanya lagi. Aku paham sifat ayah. Kalau dia mau mengatakan, akan dia katakan. Kalau tidak, dia akan tetap diam, bagaimanapun kita berusaha mengoreknya. Dan jawaban cuma sebentar itu sudah cukup baginya.
“Ayah pergi. Assalamualaikum,” dan dia pergi sambil dibonceng kawannya yang memang telah biasa menjemputnya.
Hmpffff… Aku menarik nafas berat. Sudah hampir satu tahun ayah ikut pengajian yang sering pergi-pergi itu. Aku tidak tau apa nama pengajian dia. Yang aku tahu, semenjak dia ikut pengajian itu, dan pekerjaannya di ladang diambil alih oleh bapaknya si Putra. Kalian bisa bayangkan bagaimana kami makan kalau ayah pergi? Jadi, aku melamar kerja di kafe Bu Farida, sebagai pelayannya. Kebetulan, kak Dian yang dulu kerja di situ pergi ke Arab menjadi TKW. Nefi, anak Bu Farida yang temanku sedari SD yang menawarkan. Yah, gajinya lumayan buat makan. Terkadang Kak Desi, anak pertama Bu Farida, kakaknya Nefi, sering memberiku kuah soto.
“Ayah lama nggak ya kak, perginya?”Anggi mendongak ke arahku.
“Nggak taulah, dek.”
“Anggi nggak suka sendirian di rumah. Apalagi udah nggak ada ibu. Malampun kakak nggak sempat ngajarin Anggi ngaji. Nggak kayak dulu.”keluhnya, seolah memuntahkan beban di dada selama ini. Kuelus kepalanya. Bukannya aku tidak sedih. Tapi pekerjaan di kafe Bu Ida menuntutku untuk kerja sampai larut malam. Ketika pulang, kulihat Anggi selalu terlelap di depan pintu. Menungguku. Air mataku selalu menetes melihat adik kecilku itu.
“Kan ada kawan-kawan main? Si Tika, Putra, Muti…”
“Haaaah….”sekali lagi ia melepaskan beban di dadanya.
“Mereka sekarang udah main hapeeee kerjanya. Kalau nggak, main Pe-Es. Kak Tika senang ketawa-ketawa sama cowoknya di bawah pohon jambu Pak Bahar.”
Pedih rasanya. Adikku tidak diterima di pergaulannya. Memang aneh orang-orang sini. Miskin ya miskin juga. Anaknya tidak sekolah juga. Tapi hape dia punya. Ada yang berkamera lagi. Daripada beli hape, mending aku menyekolahkan Anggi tinggi-tinggi.
“Jadi Anggi ngapainlah, dek?”tanyaku, sambil menggandengnya ke dapur, untuk makan siang. Dia senang sekali melihat kuah soto yang kubawa.
“Yaaa nemenin kak Tika. Kadang-kadang diajak ngobrol sama Pak Bahar.”
Oh, hanya bulatan kecil yang terbentuk dari mulutku. Mudah-mudahan adikku tidak kegentian seperti si Tika yang baru 13 tahun itu. Mana cowoknya Bapak-bapak, lagi. Temannya Pak Bahar. Sudah beristri pula.
“Nggak usah sama kak Tika lagi lah, dek.”
“Tapi Pak Bahar senang ngasih Anggi makanan kak. Enak-enak, lagi.”
Aku diam. Kasihan adikku. Jarang makan yang enak. Ah, aku berbaik sangka saja. Pak Bahar itu punya empat anak, laki-laki semua. Mungkin dia menganggap Anggi anaknya perempuan. Mungkin saja, kan?
Dan sudah lebih satu bulan Ayah belum pulang-pulang dari pengajiannya. Ini sudah hari keempat puluh dia pergi. Lebaran kami lewati tanpanya. Malam takbiran kami tidak bergembira seperti orang-orang di luar sana yang berkonvoi naik truk warna-warni. Tapi tangisan rindu pada ayah dan ibu yang mengisi rumah reot ini.
Ketika aku baru pulang kerja hari pertamaku setelah libur lebaran, kudapati ayah yang sedang bersiap-siap pergi salat zuhur.
“Ayah!”aku berlari memeluknya. Menangis. Kupanggil Anggi yang sedang makan kue bersama Tika, pacarnya, dan Pak Bahar.
“Dek! Ayah pulang, dek!” kami berlari-lari menuju rumah.
“Mana, kak?”tanya Anggi kecewa menemukan tidak ada siapa-siapa di rumah.
Azan berkumandang. Mesjid. Tentu saja dia ke mesjid. Kami hanya terduduk di samping sebuntelan pakaian kotor ayah. Baju kotor 40 hari. Dia selalu ke masjid dari subuh sampai isya. Hanya di rumah ketika waktu duha dan ba’da isya. Begitulah yang diajarkan pengajiannya?
Kubawa pakaian kotor ayah ke Lombang untuk dicuci. Anggi pergi main lagi. Ketika aku sedang mencuci separuhnya, Nefi berlari-lari ke arahku.
“Yun, ada lowongan kerja di Pasar Malam! Nyuci piring di tukang bakso.” selama seminggu Lebaran, di kampung kami memang selalu ada pasar malam. Dia duduk di bawah pohon sambil mengatur napasnya yang terengah-engah. Satu-satunya teman baikku ini selalu suka memberitahuku kalau-kalau ada lowongan kerja. Karena ia tau keadaan kami.
“Gajinya?”tanyaku, agak tertarik.
“Lumayan, dua puluh ribu satu malam.” Senyumnya terkembang. Aku menimbang-nimbang.
“Kerjaanku di kafe mamamu, bagaimana?”
“Kata mama, nggak pa-pa. Biar aku dan kak Desi yang gantikan. Upahmu kerja di kafe juga nggak dipotong, kok.”
Aku memeluk Nefi dan mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada sahabatku ini. Entah bagaimana aku membalas jasanya.
Yah, gaji yang sepadan dengan pekerjaannya. Pasar malam ini baru tutup setelah jam dua dini hari. Sedangkan kalau di kafe, jam sebelas paling lama aku sudah di rumah. Tapi lumayanlah tambahannya, buat beli baju baru Anggi. Tak apalah baju lebarannya terlambat. Kubayangkan senyum manis Anggi dengan baju barunya….
****
Ramadhan, tahun ini
Memang kehidupan kami agak membaik setelah aku bekerja di kafe Bu Ida. Setidaknya hari-hari kami tidak dipenuhi puasa lagi, ataupun makan dengan lauk garam. Kurasa Anggipun bisa melanjutkan sekolahnya sampai tinggi. Meskipun untuk itu aku jarang bertemu dengannya karena seharian bekerja di kafe Bu Ida.
Ayah? Dia masih selalu menghabiskan waktunya seharian di masjid. Mungkin dia lupa masih punya anak bernama Yuyun dan Anggi. Terserahlah.
Ramadhan tahun ini, beda. Pasar malam tidak hanya digelar pas lebaran saja. Tapi Ramadhan ini sampai nanti seminggu lebaran. Kubayangkan lembar-lembar uang yang kuterima upah mencuci piring warung bakso. Anggi dan aku bisa memakai baju baru untuk salat Ied nanti. Ayah? Baiklah kubelikan dia lobe dan baju koko satu.
Ada yang aneh dengan tetangga-tetangga kami setiap aku pulang ke rumah sehabis kerja di kafe. Mereka berbisik-bisik. Bu Yati, yang sedang ngumpul-ngumpul bersama ibu-ibu lain memanggilku.
“Yun, bilangin tuh adik kamu! Jangan suka ngerebut suami orang!” cecarnya disertai tatapan jijik dari ibu-ibu lain.
“Kok ibu ngomong gitu? Maksudnya apa?” tanyaku tidak mengerti.
“Haah…pura-pura nggak ngerti. Kakaknya “jualan daging” di Pasar Malam, adiknya ngerebut suami orang.” Sambar Bu Minah.
“Anggi pacaran sama Pak Bahar, Yun. Kamu kakaknya masak nggak tau? Istri Pak Bahar sudah lama minggat ke rumah orang tuanya sama empat anaknya di Medan,” perkataan Nek Ijah yang tenang dan tidak emosional itu, bagiku seperti petir di siang bolong.
“Malah katanya si Anggi lagi hamil, tuh!” tambah Bu Yati yang hampir membuatku mati berdiri.
Aku berlari ke rumah. Menjumpai ayah yang hendak berangkat khuruj.
“Yah, Ayah dengar kata orang-orang tentang adek, Yah?” dia hanya mengangguk.
“Ah, sudah takdir Allah. Kita bisa apa, Yun,” sambil berkata begitu ia naik ke boncengan motor kawannya, dan tak lupa: “Assalamualaikum”. Katanya.
Menjawab salamnya, aku hampir tak bisa. Tenggorokanku tercekat. Berlari aku menuju rumah Pak Bahar. Melihatnya sedang makan lollipop, tertawa-tawa mesra di pangkuan laki-laki tua itu. Bahkan Pak Bahar tak segan-segan mencium pipinya!
“Anggiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!” jeritku tak tertahankan lagi.
Lollipopnya jatuh.
“Kakak?”
Aku menampari laki-laki itu. Anggi hendak mencegah. Aku berbalik padanya dan memukulinya. Dia, adikku semata wayang, menangis.
Aaaaaaah…..! Jeritku lagi. Orang-orang berhamburan melihat kami.
Ini salah Ayah! Tidak! Ini salah si Tika yang sering mengajaknya! Ini salah Pak Bahar tua itu! Tidak, tidak! Ini…ini…ini salahku? Salahku??
Anggi memelukku yang jatuh terduduk. Menangis dan tertawa seperti orang gila.
“Kak, Pak Bahar janji mau menikahi Anggi, kak. Kakak nggak perlu kerja lagi. Kita nanti kaya kak. Dan kakak bentar lagi akan punya ponakan…” bisiknya sambil menangis. Mungkin antara merasa bersalah dan bahagia karena akan melepaskan ‘beban’ku. Mungkin sebentar lagi aku akan gila. Entahlah.
****
* Penulis adalah sekretaris departemen Humas KAMMI Daerah Sumut.
Seperti tidak percaya aku melihatnya di rumah itu. Persis seperti dikatakan Nek Ijah, Bu Yati, dan orang-orang yang lewat ketika aku baru pulang kerja, dua minggu lamanya di Pasar Malam. Dia kini duduk di atas pangkuan laki-laki itu. Dengan permen lollipop di mulutnya. Laki-laki itu tertawa-tawa bersamanya. Tawa serigala. Laki-laki itu….pacarnya??!
Permen lollipop itu jatuh ke lantai marmer putih teras rumahnya ketika dengan sekuat tenaga aku menjerit: memanggil namanya.
****
Ramadhan 2 tahun yang lalu
Bukannya aku tak menyangka ia akan pergi secepat ini. Memang penyakit TBC yang dideritanya sudah kronis.
“Kenapa tidak dibawa ke puskesmas saja? Kan katanya gratis?” kata Bu Aminah, ketua perwiritan ibu-ibu Nagori Bandar, kampong kami.
Aku menarik napas. Tidak menjawab. Dia tidak tahu, apa pura-pura tidak tahu? Puskesmas yang letaknya di belakang balai desa itu seperti kandang kambing saja. Sudah hampir 8 tahun tidak ada petugas kesehatan yang mengabdi di sana. Jangan coba-coba sarankan kami membawa dia, ibuku, ke klinik, rumah sakit, atau dokter praktek! Jangankan untuk biaya periksa, ongkos ke sana pun kami tak punya. Makan dua kali sehari sudah untung bagi kami.
Kusapukan pandangan ke seluruh rumah. Duduk di dekat pintu, ayah, diam dengan tatapan kosong. Ayah selalu diam dalam menghadapi masalah apapun. Para tetamu dan tetangga hilir mudik, dating dan pergi. Di sampingku, Anggi, adikku satu-satunya menyeka air mata dan ingusnya dengan jilbabku. Sedari tadi aku hanya mampu menepuk-nepuk punggungnya, tanpa bisa berkata apa-apa. Anak kelas 5 SD ini, paling kehilangan dengan kepergian ibu. Sementara air terus mengalir membajiri kelopak mataku. Kesedihan ini terlalu mendalam.
Kemiskinan ini… Nagori Bandar yang sunyi… Kampung yang terletak di pinggiran jalinsum (jalan lintas Sumatra) di Kabupaten Simalungun ini adalah kampung yang cukup paradoks bagiku, Yuyun, umur 14 tahun, putus sekolah sejak kelas 6 SD. Jika kalian kemari, kalian mungkin bisa melihat rumah-rumah gedong bertingkat, berlantai keramik. Tentu, mereka orang kaya. Pekerjaan mereka adalah pegawai negeri, pensiunan kantor pemerintah atau pengurus partai politik tertentu. Gaji mereka banyak? Mungkin, mana aku tahu? Sebagian mereka juga pengusaha. Kalian bisa lihat konter-konter hape di depan rumah mereka, atau kafe itu (milik Bu Farida, wakil kepala sekolah MTs Negeri Bandar), atau salon milik Nyonya Annah? Tapi, pernahkah kalian mencoba berjalan masuk ke dalam gang-gang di balik beberapa rumah gedong itu? Sederetan rumah dari anyaman bambu beratap rumbia dapat kau temui. Kebanyakan mereka adalah pekerja serabutan: kuli bangunan, kuli tani (seperti ayahku, yang bekerja di ladang jagung Haji Sanusi), tukang becak, bahkan banyak janda; janda ditinggal mati dan janda ditinggal kawin lagi. Banyak.
Paradoks, bukan? Tak usah dijawab, karena aku yakin di daerah manapun di negara kita ini juga banyak paradoks serupa kampungku.
Menanggungkan sempitnya lapangan kerja di Bandar, juga di Perdagangan, kota perbatasan kampungku, ditambah pendidikan yang rendah (lagi-lagi karena miskin!) para pemuda nagori ini gemar berpetualang keluar nagori. Sebagian berhasil, sebagian tidak. Mereka yang gagal dan kembali berubah menjadi preman, meresahkan warga, meresahkan anak-anak gadis yang mereka goda.
Pagi itu, tanggal 1 Ramadhan. Tentu, seperti orang Islam yang lain, kami juga puasa. Tidak pun bulan Ramadhan, kami juga sering puasa. Bukan karena melaksanakan puasa sunnah. Tidak, tidak. Tapi karena kami tidak punya banyak uang. Hasil panen jagung ladang Haji Sanusi tidak begitu banyak. Cuaca tidak menentu, kadang hujan, kadang panas. Ah, hampir tiap hari hujan. Sehingga ladang-ladang itu, yang terletak di pinggir sungai Lombang, sering terendam air.
Pagi itu, seharusnya kami menikmati hari pertama Ramadhan kami dengan suka cita. Kami; ayah, ibu, Anggi, dan aku. Tapi, Allah hendak menguji kami dengan memanggil ibu ke haribaan-Nya. Seperti yang kubilang tadi, TBCnya sudah kronis. Tidak pernah diobati. Dan juga, kelaparan-kelaparan yang mendera hari-hari kami.. Mungkin Allah hendak melepaskan kesengsaraan di jiwa dan raga ibu.
****
Ramadhan 1 tahun yang lalu
“Yah, Ayah mau pergi ke mana?” rengek Anggi –yang sebentar lagi nasibnya akan seperti aku: putus sekolah, tidak melanjut ke SMP- menari-narik gamis ayah.
Ayah tak hirau sambil terus memasukkan baju-baju gamisnya dan buku-buku yang selalu dibacanya tiap malam.
Aku yang baru pulang sebentar dari kafe Bu Farida ikut bertanya juga setelah meletakkan kuah soto (hanya kuahnya) ke mangkok.
“Ayah mau khuruj lagi? Berapa hari, Yah?”tanyaku.
“Tidak lama,”katanya.
“Tiga hari?”dia menggeleng. “Tujuh?”tetap menggeleng.
“Dua minggu?”aku terus menyebut jumlah hari di mana ayah paling lama keluar (menurut istilah kelompok pengajian ayah: khuruj, seperti kubilang tadi), berdakwah katanya. Dan dia tetap menggeleng.
“Cuma sebentar,” katanya lagi. Aku paham sifat ayah. Kalau dia mau mengatakan, akan dia katakan. Kalau tidak, dia akan tetap diam, bagaimanapun kita berusaha mengoreknya. Dan jawaban cuma sebentar itu sudah cukup baginya.
“Ayah pergi. Assalamualaikum,” dan dia pergi sambil dibonceng kawannya yang memang telah biasa menjemputnya.
Hmpffff… Aku menarik nafas berat. Sudah hampir satu tahun ayah ikut pengajian yang sering pergi-pergi itu. Aku tidak tau apa nama pengajian dia. Yang aku tahu, semenjak dia ikut pengajian itu, dan pekerjaannya di ladang diambil alih oleh bapaknya si Putra. Kalian bisa bayangkan bagaimana kami makan kalau ayah pergi? Jadi, aku melamar kerja di kafe Bu Farida, sebagai pelayannya. Kebetulan, kak Dian yang dulu kerja di situ pergi ke Arab menjadi TKW. Nefi, anak Bu Farida yang temanku sedari SD yang menawarkan. Yah, gajinya lumayan buat makan. Terkadang Kak Desi, anak pertama Bu Farida, kakaknya Nefi, sering memberiku kuah soto.
“Ayah lama nggak ya kak, perginya?”Anggi mendongak ke arahku.
“Nggak taulah, dek.”
“Anggi nggak suka sendirian di rumah. Apalagi udah nggak ada ibu. Malampun kakak nggak sempat ngajarin Anggi ngaji. Nggak kayak dulu.”keluhnya, seolah memuntahkan beban di dada selama ini. Kuelus kepalanya. Bukannya aku tidak sedih. Tapi pekerjaan di kafe Bu Ida menuntutku untuk kerja sampai larut malam. Ketika pulang, kulihat Anggi selalu terlelap di depan pintu. Menungguku. Air mataku selalu menetes melihat adik kecilku itu.
“Kan ada kawan-kawan main? Si Tika, Putra, Muti…”
“Haaaah….”sekali lagi ia melepaskan beban di dadanya.
“Mereka sekarang udah main hapeeee kerjanya. Kalau nggak, main Pe-Es. Kak Tika senang ketawa-ketawa sama cowoknya di bawah pohon jambu Pak Bahar.”
Pedih rasanya. Adikku tidak diterima di pergaulannya. Memang aneh orang-orang sini. Miskin ya miskin juga. Anaknya tidak sekolah juga. Tapi hape dia punya. Ada yang berkamera lagi. Daripada beli hape, mending aku menyekolahkan Anggi tinggi-tinggi.
“Jadi Anggi ngapainlah, dek?”tanyaku, sambil menggandengnya ke dapur, untuk makan siang. Dia senang sekali melihat kuah soto yang kubawa.
“Yaaa nemenin kak Tika. Kadang-kadang diajak ngobrol sama Pak Bahar.”
Oh, hanya bulatan kecil yang terbentuk dari mulutku. Mudah-mudahan adikku tidak kegentian seperti si Tika yang baru 13 tahun itu. Mana cowoknya Bapak-bapak, lagi. Temannya Pak Bahar. Sudah beristri pula.
“Nggak usah sama kak Tika lagi lah, dek.”
“Tapi Pak Bahar senang ngasih Anggi makanan kak. Enak-enak, lagi.”
Aku diam. Kasihan adikku. Jarang makan yang enak. Ah, aku berbaik sangka saja. Pak Bahar itu punya empat anak, laki-laki semua. Mungkin dia menganggap Anggi anaknya perempuan. Mungkin saja, kan?
Dan sudah lebih satu bulan Ayah belum pulang-pulang dari pengajiannya. Ini sudah hari keempat puluh dia pergi. Lebaran kami lewati tanpanya. Malam takbiran kami tidak bergembira seperti orang-orang di luar sana yang berkonvoi naik truk warna-warni. Tapi tangisan rindu pada ayah dan ibu yang mengisi rumah reot ini.
Ketika aku baru pulang kerja hari pertamaku setelah libur lebaran, kudapati ayah yang sedang bersiap-siap pergi salat zuhur.
“Ayah!”aku berlari memeluknya. Menangis. Kupanggil Anggi yang sedang makan kue bersama Tika, pacarnya, dan Pak Bahar.
“Dek! Ayah pulang, dek!” kami berlari-lari menuju rumah.
“Mana, kak?”tanya Anggi kecewa menemukan tidak ada siapa-siapa di rumah.
Azan berkumandang. Mesjid. Tentu saja dia ke mesjid. Kami hanya terduduk di samping sebuntelan pakaian kotor ayah. Baju kotor 40 hari. Dia selalu ke masjid dari subuh sampai isya. Hanya di rumah ketika waktu duha dan ba’da isya. Begitulah yang diajarkan pengajiannya?
Kubawa pakaian kotor ayah ke Lombang untuk dicuci. Anggi pergi main lagi. Ketika aku sedang mencuci separuhnya, Nefi berlari-lari ke arahku.
“Yun, ada lowongan kerja di Pasar Malam! Nyuci piring di tukang bakso.” selama seminggu Lebaran, di kampung kami memang selalu ada pasar malam. Dia duduk di bawah pohon sambil mengatur napasnya yang terengah-engah. Satu-satunya teman baikku ini selalu suka memberitahuku kalau-kalau ada lowongan kerja. Karena ia tau keadaan kami.
“Gajinya?”tanyaku, agak tertarik.
“Lumayan, dua puluh ribu satu malam.” Senyumnya terkembang. Aku menimbang-nimbang.
“Kerjaanku di kafe mamamu, bagaimana?”
“Kata mama, nggak pa-pa. Biar aku dan kak Desi yang gantikan. Upahmu kerja di kafe juga nggak dipotong, kok.”
Aku memeluk Nefi dan mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada sahabatku ini. Entah bagaimana aku membalas jasanya.
Yah, gaji yang sepadan dengan pekerjaannya. Pasar malam ini baru tutup setelah jam dua dini hari. Sedangkan kalau di kafe, jam sebelas paling lama aku sudah di rumah. Tapi lumayanlah tambahannya, buat beli baju baru Anggi. Tak apalah baju lebarannya terlambat. Kubayangkan senyum manis Anggi dengan baju barunya….
****
Ramadhan, tahun ini
Memang kehidupan kami agak membaik setelah aku bekerja di kafe Bu Ida. Setidaknya hari-hari kami tidak dipenuhi puasa lagi, ataupun makan dengan lauk garam. Kurasa Anggipun bisa melanjutkan sekolahnya sampai tinggi. Meskipun untuk itu aku jarang bertemu dengannya karena seharian bekerja di kafe Bu Ida.
Ayah? Dia masih selalu menghabiskan waktunya seharian di masjid. Mungkin dia lupa masih punya anak bernama Yuyun dan Anggi. Terserahlah.
Ramadhan tahun ini, beda. Pasar malam tidak hanya digelar pas lebaran saja. Tapi Ramadhan ini sampai nanti seminggu lebaran. Kubayangkan lembar-lembar uang yang kuterima upah mencuci piring warung bakso. Anggi dan aku bisa memakai baju baru untuk salat Ied nanti. Ayah? Baiklah kubelikan dia lobe dan baju koko satu.
Ada yang aneh dengan tetangga-tetangga kami setiap aku pulang ke rumah sehabis kerja di kafe. Mereka berbisik-bisik. Bu Yati, yang sedang ngumpul-ngumpul bersama ibu-ibu lain memanggilku.
“Yun, bilangin tuh adik kamu! Jangan suka ngerebut suami orang!” cecarnya disertai tatapan jijik dari ibu-ibu lain.
“Kok ibu ngomong gitu? Maksudnya apa?” tanyaku tidak mengerti.
“Haah…pura-pura nggak ngerti. Kakaknya “jualan daging” di Pasar Malam, adiknya ngerebut suami orang.” Sambar Bu Minah.
“Anggi pacaran sama Pak Bahar, Yun. Kamu kakaknya masak nggak tau? Istri Pak Bahar sudah lama minggat ke rumah orang tuanya sama empat anaknya di Medan,” perkataan Nek Ijah yang tenang dan tidak emosional itu, bagiku seperti petir di siang bolong.
“Malah katanya si Anggi lagi hamil, tuh!” tambah Bu Yati yang hampir membuatku mati berdiri.
Aku berlari ke rumah. Menjumpai ayah yang hendak berangkat khuruj.
“Yah, Ayah dengar kata orang-orang tentang adek, Yah?” dia hanya mengangguk.
“Ah, sudah takdir Allah. Kita bisa apa, Yun,” sambil berkata begitu ia naik ke boncengan motor kawannya, dan tak lupa: “Assalamualaikum”. Katanya.
Menjawab salamnya, aku hampir tak bisa. Tenggorokanku tercekat. Berlari aku menuju rumah Pak Bahar. Melihatnya sedang makan lollipop, tertawa-tawa mesra di pangkuan laki-laki tua itu. Bahkan Pak Bahar tak segan-segan mencium pipinya!
“Anggiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!” jeritku tak tertahankan lagi.
Lollipopnya jatuh.
“Kakak?”
Aku menampari laki-laki itu. Anggi hendak mencegah. Aku berbalik padanya dan memukulinya. Dia, adikku semata wayang, menangis.
Aaaaaaah…..! Jeritku lagi. Orang-orang berhamburan melihat kami.
Ini salah Ayah! Tidak! Ini salah si Tika yang sering mengajaknya! Ini salah Pak Bahar tua itu! Tidak, tidak! Ini…ini…ini salahku? Salahku??
Anggi memelukku yang jatuh terduduk. Menangis dan tertawa seperti orang gila.
“Kak, Pak Bahar janji mau menikahi Anggi, kak. Kakak nggak perlu kerja lagi. Kita nanti kaya kak. Dan kakak bentar lagi akan punya ponakan…” bisiknya sambil menangis. Mungkin antara merasa bersalah dan bahagia karena akan melepaskan ‘beban’ku. Mungkin sebentar lagi aku akan gila. Entahlah.
****
* Penulis adalah sekretaris departemen Humas KAMMI Daerah Sumut.
Langganan:
Postingan (Atom)